«

»

Apr 15

musim walet kawin

Pada dasarnya susunan alat reproduksi walet tidak berbeda dengan burung lain. Namun, yang menarik pada organ reproduksi walet ialah adanya kaitan antara ukuran kelenjar kelamin dengan kelenjar air liur (saliva). Artinya, ada hubungan signifikan antara kematangan kelamin dengan kemampuan membuat sarang. Kenyataannya, hanya walet berusia reproduksi saja yang mampu mengeluarkan kelenjar saliva untuk membuat sarang.

1

Gedung walet yang hanya dihuni oleh beberapa pasang walet perlu dikembangkan populasinya agar produksi sarang menjadi maksimal. Untuk itu, program penetasan telur walet perlu dilakukan agar gedung dapat dihuni oleh banyak pasangan atau banyak populasi walet. Penetasan telur walet dengan induk walet sendiri merupakan salah satu cara memperbanyak populasi. Untuk keperluan ini tentunya sarang walet yang ada di dalam gedung tersebut tidak boleh dipanen terlebih dahulu, tetapi dipanen dengan cara panen tetasan. Panen tetasan dilakukan setiap enam bulan sekali untuk memberikan kesempatan pada walet terus-menerus berkembang biak.

Periode Walet Bertelur

Bila diperhatikan, walet berkembang biak dua kali dalam setahun. Musim bertelur pada walet dalam keadaan iklim normal dan menurut kebiasaan adalah sebagai berikut.

  1. Pada musim berkembang biak pertama, walet mulai bertelur awal Februari. Puncak bertelur atau titik terbanyak terjadi pada awal Maret. Setelah itu, akhir Maret mulai terjadi penu-runan dan hanya sebagian kecil saja yang bertelur hingga awal April.
  2. Pada musim berkembang biak kedua, walet mulai bertelur awal September. Titik puncak atau terbanyak terjadi pada awal Oktober. Penurunan jumlah walet yang bertelur terjadi pada akhir Oktober hingga awal November.

Perkembangbiakan Walet di Musim Hujan

Setelah menemukan pasangan yang cocok, walet mulai mengawali proses perkembangbiakannya dengan acara perka-winan di udara. Perkawinan dilanjutkan saat berada di sirip dalam gedung pada malam hari. Setelah kawin, pasangan walet tersebut akan membangun sarang. Lama waktu pembangunan sarang ini tergantung musim atau iklim. Pada musim hujan, sarang dapat diselesaikan selama 35—45 hari atau rata-rata 40 hari.

Setelah sarang selesai dibangun, walet akan bertelur di dalamnya. Mula-mula hanya sebutir, lalu 3-5 hari kemudian akan dihasilkan satu butir lagi. Dilanjutkan dengan proses pengeraman yang memerlukan waktu 20-25 hari.

Ada juga sarang walet yang tidak terdapat telur di dalamnya. Hal ini kemungkinan terjadi karena sarangnya baru selesai dibuat sehingga walet belum bertelur di dalamnya. Walet yang belum bertelur jelas belum mau mengerami telur lain yang diberikan. Bila dipaksakan, program penetasan ini akan sia-sia karena walet tetap akan bertelur di dalamnya dan walet pemilik sarang tersebut akan membuang telur yang dimasukkan dengan paksa.

Kemungkinan lain sarang kosong ialah walet meninggalkan begitu saja sarang yang sudah selesai dibuat karena terganggu oleh binatang predator. Sarang kosong bisa karena walet dimakan elang saat keluar mencari makanan. Sarang kosong tidak akan digunakan walet lain untuk bertelur.

Gedung yang rusak berpengaruh pada suhu, kelembapan, dan pencahayaan dalam gedung. Kondisi ini pun berpengaruh pada proses penetasan. Walet menjadi terganggu sehingga intensitas pengeraman akan berkurang dan telur tidak akan menetas.

Sarang yang tidak kuat atau tidak kokoh dapat merugikan proses penetasan. Telur walet dalam sarang dapat jatuh sehingga pecah. Bahkan saat telur sudah menetas, beban sarang akan semakin berat sehingga sarang tersebut lepas dari sirip gedung. Akibatnya, piyik walet jatuh ke lantai dan mati.

Pengeraman telur dilakukan oleh kedua induknya secara ber-gantian. Secara visual, sulit dibedakan antara walet jantan dan walet betina. Namun, secara logika karena hidup secara berpasangan maka walet pun akan mengeram bergantian hingga menetas.

Perkembangbiakan Walet di Musim Kemarau
Sekarang, bagaimana bila perkembangan populasi walet dilakukan pada musim kemarau? Proses kawin walet di musim kemarau pun sama dengan di musim hujan, yaitu kawin saat terbang dan dilanjutkan di sirip dalam gedung. Perbedaan yang mencolok terjadi pada proses pembangunan sarang yang rata-rata membutuhkan waktu 80 hari. Jumlah telur yang dihasilkan dan pengerarnannya tetap sama dengan saat musim hujan.
Perkembangbiakan pada musim kemarau biasanya banyak mengalami hambatan. Bila ditelusuri, hambatan tersebut bersumber pada faktor makanan di alam yang hanya relatif sedikit. Hal ini akan berakibat pada beberapa hal berikut.

  1. Kualitas telur menurun. Musim kemarau menyebabkan se-rangga di alam sebagai makanan walet menjadi berkurang. Akibatnya walet nanus memburu makanan hingga cukup jauh. Sebagian walet yang kekurangan makanan akan terganggu kesehatan fisiknya. Tubuh walet menjadi kurus. Dalam kondisi ini, walet yang masuk musim bertelur tentu akan berpengaruh pada kualitas telur, yaitu banyak yang kosong (infertil).
  2. Daya tetas kurang baik. Makanan yang kurang di sekitar tempat tinggalnya dapat memaksa walet harus berburu makanan hingga ke lokasi yang jauh. Jauhnya lokasi per-buruan makanan berakibat pada intensitas pengeraman telur berkurang. Artinya, waktu untuk mengerami telur tidak bisa rutin sehingga banyak telur yang tidak menetas karena sering ditinggal cukup lama.
  3. Suplai makanan ke piyik sedikit. Faktor kekurangan makanan akan berpengaruh pada suplai makanan yang diberikan induknya pada piyik walet. Akibatnya, pertumbuhan dan kesehatan piyik walet terganggu.

Untuk mengurangi hambatan perkembangbiakan di musim kemarau, langkah terpenting adalah menciptakan sumber penghasil serangga terbang, baik di sekeliling maupun di dalam gedung walet. Di sekeliling gedung sebaiknya ditanami pepohonan seperti lam-toro, akasia, belimbing, jambu, dan mangga. Sementara di dalam gedung disediakan ekstra fooding berupa serangga yang dihasilkan dari gaplek, bekatul, atau jagung. Gaplek, bekatul, dan jagung ini cukup diletakkan di lantai dalam gedung. Derigan cara ini diha-rapkan masalah kekurangan makanan dapat teratasi.
Untuk penetasan telur pada musim kemarau, mungkin akan muncul pertanyaan, “Mungkinkah dilakukan seleksi telur pada setiap sarang walet? Mungkinkah telur infertil ditukar dengan telur fertil pada setiap sarang walet?” Ada beberapa pemikiran untuk menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut.

  1. Pada rumah walet yang produksi sarangnya masih sedikit (kurang dari 50 sarang), langkah seleksi telur mungkin dapat dilakukan. Namun, untuk rumah walet yang produksi sarang¬nya banyak, seleksi telur akan sulit dilakukan, bahkan dapat berakibat rusaknya sarang kalau tidak hati-hati.
  2. Seleksi telur tidak mungkin dilakukan karena untuk melihat telur fertil atau infertil harus menggunakan teropong sehingga telur harus dikeluarkan dari sarang dan dilakukan penero-pongan di luar gedung. Hal ini jelas akan mengganggu walet.
  3. Bila seleksi dilakukan di dalam gedung, waktu yang dibutuh-kan cukup lama sehingga mengganggu kehidupan walet.
  4. Percepatan pengeraman mungkin saja dapat dilakukan dengan mengganti telur walet muda dengan telur walet tua waktu pengeramannya tidak lama. Namun, pekerjaan mengganti telur tersebut saat ini belum populer.
  5. Pada musim kemarau, petemak walet rata-rata menjual telur ke pasaran sehingga stok telur berlimpah. Akibatnya, harga telur menjadi relatif murah. Peternak menjual telur walet karena risiko kegagalan penetasan cukup tinggi.
Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial