Polusi mendorong penyakit rongga dada pada anak-anak mempunyai arti tersendiri

Oleh karena anak-anak yang berulangkali terserang penyakit rongga dada bisa berakibatjauh dan bisa menggalakkan serangan berbagai penyakit paru-paru kronis yang adakalanya memati[an di kemudian hari. Anak-anak yang bertumbuh dalam atmosfir yang penuh polusi bisa menderita karenanya beberapa puluh tahun sesudahnya. Kontribusi polusi udara dalam menimbulkan kematian akibat penyakit jantung koroner semakin disadari. Kematian ekstra banyak terjadi di kalangan para penderita jantung selama berlangsungnya krisis polusi-udara, mungkin antara lain disebabkan karena sesak nafas mengganggu jantung. penjelasan lainnya mungkin adalah bahwa monoksida karbon yakni polutan u.tama di mana saja mobil banyak digunakan, merangsang kematian karena penyakit jantung. Terhirupnya karbon monoksida dari asap rokok atau dari lalulintas yang ramai mengurangi kemampuan obat herbal untuk diabetes melitus tipe 2 darah untuk menyediakan oksigen ke dalam jaringan-jaringan tubuh.

rusukBahkan dalam konsentrasi yang sedang-sedang saja pur, monoksida karbon nampaknya mengusik jantung. Meskipun rokok nampaknya merupakan penyebab dari sebagi_ an besar kasus tersebut, polusi udara nampaknya juga merangsang epidemi kanker paru-paru yang modern. penduduk kota-kota besar AS 20-30 persen lebih cenderung terkena kanker paru-paru dibanding dengan merekayangtinggal di pedesaan atau di kota-kota kecil. Meskipun lebih banyak orang kota yang merokok daripada orang di desa, faktor ini tidaklah mutlak merupakan penyebab dari kesenjangan dalam jumlah penderita kanker.

Penduduk perkotaan sekalipun tidak merokok tiga sampai empat kali lebih cenderung menderita kanker paru-paru dibanding dengan orang desa yang tidak merokok. Keterkenaan zat-zat tertentu di tempat-tempat pekerjaan atau segi-segi hidup perkotaan yang belum diketahui bisa saja merangsang kanker paru-paru, akan tetapi polusi udara,rampaknya turut menjadi penyabab dari kesenjangan antara kota dengan desa. Di Los Angeles pada penghujung tahun 1960-an, kaum pria yang tinggal di sekitar daerih yang udaranya paling kotor menderita kanker paru-paru 40 persen lebih banyak daripada kaum pria yang tinggal di bagian-bagian kota lainnya.

Bukti-bukti menunjukkan adanya interaksi antara polusi dengan kebiasaan merokok sebagai jawaban yang paling masuk akal.  Buangan industri ada kalanya mengandung sejumlah agen karsinogen yang sudah diketahui. Akan tetapi sejumlah unsur dalam kabut fotokemis belum pernah diidentifikasi, apalagi diuji kemungkinannya sebagai penyebab kanker.

Leave a Comment