Apr 26

Pemeriksaan Pada Bakterioskopik

Kita harus memilih lesi yang paling aktip yaitu yang paling erythematous dan paling Infiltratif  dan secara topografik yang paling baik ialah muka dan telinga Dengan menggunakan vaccinostiel dibuat goresan sampai di dermis, diputar 90 derajat dan dicongkelkan. Dari bahan tadi dibuat sediaan apus dan diwarnai secara Ziehl-Nielsen. Pada pemeriksaan bakterioskopk akan tampak batang-batang merah yang utuh, terputus-putus atau granuler. Batang-batang itu dapat membentuk ,kelompok-kelompok yang disebut globus. Yang dianggap hidup ialah batang yang utuh. Gunanya pemeriksaan tahitian noni juice indonesia bakterioskopik ialah untuk membantu diagnosa, klassifikasi dan untuk follow-up

pemeriksaan

Test Mitsuda

Test Mitsuda berupa penyuntikan Lepromin secara intracutan,pada lengan, yang

hasilnya dapat dibaca 3 – 4 minggu kemudian.

Bila timbul infiltrat di tempat suntikan berarti lrpromin test positip (+).

Reaksi Lepra

Bagaimana sebetulnya reaksi lepra masih belum jelas. lepra reaksi ialah suatu keadaan exacerbasi tanpa atau dengan gejala konstitusi yang dapat terjadi pada type T, L dan B dengan gambaran klinik yang berbeda-beda. Tanda exacerbasi ialah bertambahnya erythema dan infiltlat pada sebagian atau seluruh lesi yang telah ada, dapat pula ditambah dengan timbulnya lesi baru. Beberapa istilah dalam Reaksi lepra antara lain:

“Tuberculoid in reaction” apabila type Type T berexacerbasi.

“Reactional tuberculoid” apabila type T berexacerbasi dengan disertai gejala konstitusi.

“I-epromatous exacerbation” ialah type L yang berexacerbasi, dan

“Lepromatous lepra reaction” apabila type L berexacerbasi disertai gejala-gejala konsitusi.

Yang terpenting dan paling sering terjadi ialah “Reaksi Lepra” Erythema Nodosury Leprosum (E.N.L.) yaitu “Lepromatous lepra reaction” dengan gambaran klinik erythema nodosum.

Terapi, Profilaksis dan Rehabilitasi.

Dalam menghadapi setiap kasus lepra ketiga hal tersebut di atas harus menjadi pemikiran kita sekaligus.

profilaksis.

Profilaksis dapat dilakukan dengan:

a. penerangan dengan memberikan spdikit penjelasan tentang seluk beluk penyakit lepra pada si sakit.

b. Pengobatan profilalais dengan dosis yang lebih rendah dari pada dosis therapeutic.

c. Vaksinasi dengan 819,9. yang juga mempunyai daya profilaksis terhadap lepra.

Apr 15

musim walet kawin

Pada dasarnya susunan alat reproduksi walet tidak berbeda dengan burung lain. Namun, yang menarik pada organ reproduksi walet ialah adanya kaitan antara ukuran kelenjar kelamin dengan kelenjar air liur (saliva). Artinya, ada hubungan signifikan antara kematangan kelamin dengan kemampuan membuat sarang. Kenyataannya, hanya walet berusia reproduksi saja yang mampu mengeluarkan kelenjar saliva untuk membuat sarang.

1

Gedung walet yang hanya dihuni oleh beberapa pasang walet perlu dikembangkan populasinya agar produksi sarang menjadi maksimal. Untuk itu, program penetasan telur walet perlu dilakukan agar gedung dapat dihuni oleh banyak pasangan atau banyak populasi walet. Penetasan telur walet dengan induk walet sendiri merupakan salah satu cara memperbanyak populasi. Untuk keperluan ini tentunya sarang walet yang ada di dalam gedung tersebut tidak boleh dipanen terlebih dahulu, tetapi dipanen dengan cara panen tetasan. Panen tetasan dilakukan setiap enam bulan sekali untuk memberikan kesempatan pada walet terus-menerus berkembang biak.

Periode Walet Bertelur

Bila diperhatikan, walet berkembang biak dua kali dalam setahun. Musim bertelur pada walet dalam keadaan iklim normal dan menurut kebiasaan adalah sebagai berikut.

  1. Pada musim berkembang biak pertama, walet mulai bertelur awal Februari. Puncak bertelur atau titik terbanyak terjadi pada awal Maret. Setelah itu, akhir Maret mulai terjadi penu-runan dan hanya sebagian kecil saja yang bertelur hingga awal April.
  2. Pada musim berkembang biak kedua, walet mulai bertelur awal September. Titik puncak atau terbanyak terjadi pada awal Oktober. Penurunan jumlah walet yang bertelur terjadi pada akhir Oktober hingga awal November.

Perkembangbiakan Walet di Musim Hujan

Setelah menemukan pasangan yang cocok, walet mulai mengawali proses perkembangbiakannya dengan acara perka-winan di udara. Perkawinan dilanjutkan saat berada di sirip dalam gedung pada malam hari. Setelah kawin, pasangan walet tersebut akan membangun sarang. Lama waktu pembangunan sarang ini tergantung musim atau iklim. Pada musim hujan, sarang dapat diselesaikan selama 35—45 hari atau rata-rata 40 hari.

Setelah sarang selesai dibangun, walet akan bertelur di dalamnya. Mula-mula hanya sebutir, lalu 3-5 hari kemudian akan dihasilkan satu butir lagi. Dilanjutkan dengan proses pengeraman yang memerlukan waktu 20-25 hari.

Ada juga sarang walet yang tidak terdapat telur di dalamnya. Hal ini kemungkinan terjadi karena sarangnya baru selesai dibuat sehingga walet belum bertelur di dalamnya. Walet yang belum bertelur jelas belum mau mengerami telur lain yang diberikan. Bila dipaksakan, program penetasan ini akan sia-sia karena walet tetap akan bertelur di dalamnya dan walet pemilik sarang tersebut akan membuang telur yang dimasukkan dengan paksa.

Kemungkinan lain sarang kosong ialah walet meninggalkan begitu saja sarang yang sudah selesai dibuat karena terganggu oleh binatang predator. Sarang kosong bisa karena walet dimakan elang saat keluar mencari makanan. Sarang kosong tidak akan digunakan walet lain untuk bertelur.

Gedung yang rusak berpengaruh pada suhu, kelembapan, dan pencahayaan dalam gedung. Kondisi ini pun berpengaruh pada proses penetasan. Walet menjadi terganggu sehingga intensitas pengeraman akan berkurang dan telur tidak akan menetas.

Sarang yang tidak kuat atau tidak kokoh dapat merugikan proses penetasan. Telur walet dalam sarang dapat jatuh sehingga pecah. Bahkan saat telur sudah menetas, beban sarang akan semakin berat sehingga sarang tersebut lepas dari sirip gedung. Akibatnya, piyik walet jatuh ke lantai dan mati.

Pengeraman telur dilakukan oleh kedua induknya secara ber-gantian. Secara visual, sulit dibedakan antara walet jantan dan walet betina. Namun, secara logika karena hidup secara berpasangan maka walet pun akan mengeram bergantian hingga menetas.

Perkembangbiakan Walet di Musim Kemarau
Sekarang, bagaimana bila perkembangan populasi walet dilakukan pada musim kemarau? Proses kawin walet di musim kemarau pun sama dengan di musim hujan, yaitu kawin saat terbang dan dilanjutkan di sirip dalam gedung. Perbedaan yang mencolok terjadi pada proses pembangunan sarang yang rata-rata membutuhkan waktu 80 hari. Jumlah telur yang dihasilkan dan pengerarnannya tetap sama dengan saat musim hujan.
Perkembangbiakan pada musim kemarau biasanya banyak mengalami hambatan. Bila ditelusuri, hambatan tersebut bersumber pada faktor makanan di alam yang hanya relatif sedikit. Hal ini akan berakibat pada beberapa hal berikut.

  1. Kualitas telur menurun. Musim kemarau menyebabkan se-rangga di alam sebagai makanan walet menjadi berkurang. Akibatnya walet nanus memburu makanan hingga cukup jauh. Sebagian walet yang kekurangan makanan akan terganggu kesehatan fisiknya. Tubuh walet menjadi kurus. Dalam kondisi ini, walet yang masuk musim bertelur tentu akan berpengaruh pada kualitas telur, yaitu banyak yang kosong (infertil).
  2. Daya tetas kurang baik. Makanan yang kurang di sekitar tempat tinggalnya dapat memaksa walet harus berburu makanan hingga ke lokasi yang jauh. Jauhnya lokasi per-buruan makanan berakibat pada intensitas pengeraman telur berkurang. Artinya, waktu untuk mengerami telur tidak bisa rutin sehingga banyak telur yang tidak menetas karena sering ditinggal cukup lama.
  3. Suplai makanan ke piyik sedikit. Faktor kekurangan makanan akan berpengaruh pada suplai makanan yang diberikan induknya pada piyik walet. Akibatnya, pertumbuhan dan kesehatan piyik walet terganggu.

Untuk mengurangi hambatan perkembangbiakan di musim kemarau, langkah terpenting adalah menciptakan sumber penghasil serangga terbang, baik di sekeliling maupun di dalam gedung walet. Di sekeliling gedung sebaiknya ditanami pepohonan seperti lam-toro, akasia, belimbing, jambu, dan mangga. Sementara di dalam gedung disediakan ekstra fooding berupa serangga yang dihasilkan dari gaplek, bekatul, atau jagung. Gaplek, bekatul, dan jagung ini cukup diletakkan di lantai dalam gedung. Derigan cara ini diha-rapkan masalah kekurangan makanan dapat teratasi.
Untuk penetasan telur pada musim kemarau, mungkin akan muncul pertanyaan, “Mungkinkah dilakukan seleksi telur pada setiap sarang walet? Mungkinkah telur infertil ditukar dengan telur fertil pada setiap sarang walet?” Ada beberapa pemikiran untuk menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut.

  1. Pada rumah walet yang produksi sarangnya masih sedikit (kurang dari 50 sarang), langkah seleksi telur mungkin dapat dilakukan. Namun, untuk rumah walet yang produksi sarang¬nya banyak, seleksi telur akan sulit dilakukan, bahkan dapat berakibat rusaknya sarang kalau tidak hati-hati.
  2. Seleksi telur tidak mungkin dilakukan karena untuk melihat telur fertil atau infertil harus menggunakan teropong sehingga telur harus dikeluarkan dari sarang dan dilakukan penero-pongan di luar gedung. Hal ini jelas akan mengganggu walet.
  3. Bila seleksi dilakukan di dalam gedung, waktu yang dibutuh-kan cukup lama sehingga mengganggu kehidupan walet.
  4. Percepatan pengeraman mungkin saja dapat dilakukan dengan mengganti telur walet muda dengan telur walet tua waktu pengeramannya tidak lama. Namun, pekerjaan mengganti telur tersebut saat ini belum populer.
  5. Pada musim kemarau, petemak walet rata-rata menjual telur ke pasaran sehingga stok telur berlimpah. Akibatnya, harga telur menjadi relatif murah. Peternak menjual telur walet karena risiko kegagalan penetasan cukup tinggi.

Apr 15

Cara Menetaskan Telur Walet Dengam Mesin Penetas Telur

Menetaskan telur walet dengan mesin tetas telur walet memang sudah banyak dilakukan peternak. Mesin tetas ini sudah dijual di toko peralatan budi daya walet, dari yang menggunakan tenaga listrik hingga minyak tanah. Kapasitasnya pun beragam mulai dari 100 butir hingga mencapai 400 butir.

Tujuan Penetasan dengan Mesin Tetas
Sedikitnya ada tiga tujuan peternak melakukan penetasan telur walet dengan menggunakan mesin tetas, yaitu untuk dijual hasil tetasannya berupa anakan walet, mengembangkan populasi, dan mengisi gedung kosong.

Bisnis anakan walet saat ini sudah menjadi trend sendiri. Awal tahun 2001 di sekitar Jawa Tengah, harga anakan walet umur 10 hari dapat mencapai RplO.000,00—15.000,00 per ekor. Dengan demikian, bila sekali periode ditetaskan 400 butir telur dan

Proses Penetasan Telur
Proses penetasan telur walet pada prinsipnya sama dengan penetasan telur lain seperti ayam, itik, atau puyuh. Yang harus diperhatikan adalah pengaturan suhu di dalam ruang tetas saat proses tersebut berlangsung sebagai berikut.

  1. Pada hari ke-1—2, suhu ruang tetas diatur 32°—33° C.
  2. Pada hari ke-3—6, suhu dinaikkan menjadi 34° C.
  3. Pada hari ke-7 sampai menetas, suhu dinaiknya hingga 35° C.

Telur walet akan menetas pada sekitar 13—15 hari bila telur yang dimasukkan sudah berembrio. Telur yang masih muda akan menetas pada 18—20 hari.

Pada telur tua, kemungkinan akan menetas lebih dahulu sangat besar sehingga perlu anakan walet yang sudah menetas dipindahkan dalam ruang inkubator. Suhu ruang inkubator sekitar 30°—31° C. Selain dengan inkubator, anakan walet pun dapat dibasukkan dalam kotak papan yang diberi lampu agar ruang kotak terjaga kehangatannya atau suhu tetap sama (30°—31° C).

Selain terhadap telur yang menetas, kontrol terhadap telur yang mati pun harus dilakukan. Telur yang mati berwarna hitam. Telur ini harus dibuang.
Wadah berisi air yang ada di dalam mesin tetas perlu di-kontrol. Bila tidak selalu dikontrol, dikhawatirkan kebutuhan kelembapan ruang penetasan tidak tercapai. Bila air berkurang, perlu ditambah.

penetas walet

Pembalikan posisi telur dilakukan dua kali sehari secara hati-hati. Sebagaian orang yang sudah berpengalaman biasanya pembalikan telur ini tidak dilakukan. Hal ini disebabkan telur berada dalam lubang spon sehingga agak sulit dibalik.

Biasanya ada piyik yang sudah menetas, tetapi sulit keluar dari kulit telur. Bila hal ini tidak diketahui, dapat saja piyik mati di dalam kulit telur. Untuk itu, diperlukan bantuan peternak dalam mengeluarkannya.

Penanganan Anak Walet Setelah Menetas
Anak walet setelah menetas harus diperhatikan dengan baik. Bila tidak, anak walet tersebut mungkin tidak akan hidup dan berkembang dengan baik, bahkan dapat mati.

Kegiatan awal setelah telur menetas adalah memasukkan anak walet ke dalam kotak penghangat (inkubator) bersuhu 30°—31° C. Kotak penghangat dapat dibuat secara sederhana, yaitu berupa kotak papan berbentuk kubus. Sebagai penghangat, di dalam ko¬tak diberi lampu listrik 20 watt agar tercapai suhu yang diinginkan. Namun, agar suhunya merata, dapat dipasang dua lampu masing-masing 10 watt atau empat lampu masing-masing 5 watt.

piyek

Anak walet yang baru menetas belum memerlukan penyuapan makanan. Secara alami, anak walet ini masih mempunyai cadangan makanan dalam tubuhnya hingga 6—12 jam setelah menetas. Anak walet ini membutuhkan makanan empat kali sehari, yaitu pagi pukul 07.00—08.00, siang pukul 11.00—12.00, sore pukul 16.00— 17.00, dan malam pukul 19.00—22.00. Jenis makanan yang diberikan berupa kroto.

Kroto yang diberikan harus segar dan bersih dari semut. Bahkan ada sebagian peternak memberikan kroto yang sudah dikukus. Pengukusan kroto ini dilakukan selama lima menit agar steril atau bebas penyakit. Kroto yang diberikan dipilih yang sudah berbentuk semut berwarna putih kekuning-kuningan. Kroto yang masih berbentuk telur dapat berakibat anak walet mencret. Se-mentara kroto yang terlalu tua (sudah berbentuk semut berwarna cokelat muda) dapat menyebabkan anak walet sulit berak.

Kroto yang diberikan diusahakan jangan yang basi. Sebaiknya hindari memberikan kroto yang dibeli dari kios karena kemungkinan kroto sudah basi sangat besar. Akan lebih baik kalau kroto lang-sung diperoleh dari sarang semut rang-rang. Kroto yang sudah basi dapat menyebabkan kematian anak walet pada hari ke-21.

Menyuapi kroto dapat dengan pinset stainless steel. Kroto dijepit dengan pinset dan dimasukkan ke dalam paruh anak walet. Di pasaran ada banyak jenis pinset. Namun, sebaiknya dipilih yang ujungnya kecil agar dapat masuk ke paruh anak walet.

Pada hari ke-10, tubuh anak walet mulai ditumbuhi bulu-bulu lembut. Mulai hari ke-10 ini suhu di dalam kotak pengha¬ngat dapat diturunkan sesuai habitat walet, yaitu berkisar 28°— 29° C. Pada hari ke-20, bulu sayap dan bulu ekor mulai muncul. Pada hari ke-30, bulu sudah mulai merata di seluruh bagian tubuh. Pada hari ke-40, bulu sayap dan ekor mulai memanjang sebagai tanda anak walet ini sudah siap terbang pada hari ke-45.

Kebersihan dalam kotak penghangat harus terus dijaga. Kotoran anak walet atau sisa-sisa kroto yang lepas dari mulut anak walet perlu dibersihkan. Kebersihan ini sangat penting agar kesehatan anak walet tetap terjaga. Selain itu, sisa kroto dapat mengundang semut. Semut ini pun terkadang menggigit bagian tubuh anak walet seperti mata yang dapat berakibat kebutaan.

Apr 15

Cara Menetaskan Telur Walet Dengan Mesin Penetas Telur

Menetaskan telur walet dengan mesin tetas telur walet memang sudah banyak dilakukan peternak. Mesin tetas ini sudah dijual di toko peralatan budi daya walet, dari yang menggunakan tenaga listrik hingga minyak tanah. Kapasitasnya pun beragam mulai dari 100 butir hingga mencapai 400 butir.

Tujuan Penetasan dengan Mesin Tetas
Sedikitnya ada tiga tujuan peternak melakukan penetasan telur walet dengan menggunakan mesin tetas, yaitu untuk dijual hasil tetasannya berupa anakan walet, mengembangkan populasi, dan mengisi gedung kosong.

Bisnis anakan walet saat ini sudah menjadi trend sendiri. Awal tahun 2001 di sekitar Jawa Tengah, harga anakan walet umur 10 hari dapat mencapai RplO.000,00—15.000,00 per ekor. Dengan demikian, bila sekali periode ditetaskan 400 butir telur dan

Proses Penetasan Telur
Proses penetasan telur walet pada prinsipnya sama dengan penetasan telur lain seperti ayam, itik, atau puyuh. Yang harus diperhatikan adalah pengaturan suhu di dalam ruang tetas saat proses tersebut berlangsung sebagai berikut.

  1. Pada hari ke-1—2, suhu ruang tetas diatur 32°—33° C.
  2. Pada hari ke-3—6, suhu dinaikkan menjadi 34° C.
  3. Pada hari ke-7 sampai menetas, suhu dinaiknya hingga 35° C.

Telur walet akan menetas pada sekitar 13—15 hari bila telur yang dimasukkan sudah berembrio. Telur yang masih muda akan menetas pada 18—20 hari.

Pada telur tua, kemungkinan akan menetas lebih dahulu sangat besar sehingga perlu anakan walet yang sudah menetas dipindahkan dalam ruang inkubator. Suhu ruang inkubator sekitar 30°—31° C. Selain dengan inkubator, anakan walet pun dapat dibasukkan dalam kotak papan yang diberi lampu agar ruang kotak terjaga kehangatannya atau suhu tetap sama (30°—31° C).

Selain terhadap telur yang menetas, kontrol terhadap telur yang mati pun harus dilakukan. Telur yang mati berwarna hitam. Telur ini harus dibuang.
Wadah berisi air yang ada di dalam mesin tetas perlu di-kontrol. Bila tidak selalu dikontrol, dikhawatirkan kebutuhan kelembapan ruang penetasan tidak tercapai. Bila air berkurang, perlu ditambah.

 

penetas walet

Pembalikan posisi telur dilakukan dua kali sehari secara hati-hati. Sebagaian orang yang sudah berpengalaman biasanya pembalikan telur ini tidak dilakukan. Hal ini disebabkan telur berada dalam lubang spon sehingga agak sulit dibalik.

Biasanya ada piyik yang sudah menetas, tetapi sulit keluar dari kulit telur. Bila hal ini tidak diketahui, dapat saja piyik mati di dalam kulit telur. Untuk itu, diperlukan bantuan peternak dalam mengeluarkannya.

Penanganan Anak Walet Setelah Menetas
Anak walet setelah menetas harus diperhatikan dengan baik. Bila tidak, anak walet tersebut mungkin tidak akan hidup dan berkembang dengan baik, bahkan dapat mati.

 

Kegiatan awal setelah telur menetas adalah memasukkan anak walet ke dalam kotak penghangat (inkubator) bersuhu 30°—31° C. Kotak penghangat dapat dibuat secara sederhana, yaitu berupa kotak papan berbentuk kubus. Sebagai penghangat, di dalam ko¬tak diberi lampu listrik 20 watt agar tercapai suhu yang diinginkan. Namun, agar suhunya merata, dapat dipasang dua lampu masing-masing 10 watt atau empat lampu masing-masing 5 watt.

Anak walet yang baru menetas belum memerlukan penyuapan makanan. Secara alami, anak walet ini masih mempunyai cadangan makanan dalam tubuhnya hingga 6—12 jam setelah menetas. Anak walet ini membutuhkan makanan empat kali sehari, yaitu pagi pukul 07.00—08.00, siang pukul 11.00—12.00, sore pukul 16.00— 17.00, dan malam pukul 19.00—22.00. Jenis makanan yang diberikan berupa kroto.

Kroto yang diberikan harus segar dan bersih dari semut. Bahkan ada sebagian peternak memberikan kroto yang sudah dikukus. Pengukusan kroto ini dilakukan selama lima menit agar steril atau bebas penyakit. Kroto yang diberikan dipilih yang sudah berbentuk semut berwarna putih kekuning-kuningan. Kroto yang masih berbentuk telur dapat berakibat anak walet mencret. Se-mentara kroto yang terlalu tua (sudah berbentuk semut berwarna cokelat muda) dapat menyebabkan anak walet sulit berak.

Kroto yang diberikan diusahakan jangan yang basi. Sebaiknya hindari memberikan kroto yang dibeli dari kios karena kemungkinan kroto sudah basi sangat besar. Akan lebih baik kalau kroto lang-sung diperoleh dari sarang semut rang-rang. Kroto yang sudah basi dapat menyebabkan kematian anak walet pada hari ke-21.

Menyuapi kroto dapat dengan pinset stainless steel. Kroto dijepit dengan pinset dan dimasukkan ke dalam paruh anak walet. Di pasaran ada banyak jenis pinset. Namun, sebaiknya dipilih yang ujungnya kecil agar dapat masuk ke paruh anak walet.

Pada hari ke-10, tubuh anak walet mulai ditumbuhi bulu-bulu lembut. Mulai hari ke-10 ini suhu di dalam kotak pengha¬ngat dapat diturunkan sesuai habitat walet, yaitu berkisar 28°— 29° C. Pada hari ke-20, bulu sayap dan bulu ekor mulai muncul. Pada hari ke-30, bulu sudah mulai merata di seluruh bagian tubuh. Pada hari ke-40, bulu sayap dan ekor mulai memanjang sebagai tanda anak walet ini sudah siap terbang pada hari ke-45.

Kebersihan dalam kotak penghangat harus terus dijaga. Kotoran anak walet atau sisa-sisa kroto yang lepas dari mulut anak walet perlu dibersihkan. Kebersihan ini sangat penting agar kesehatan anak walet tetap terjaga. Selain itu, sisa kroto dapat mengundang semut. Semut ini pun terkadang menggigit bagian tubuh anak walet seperti mata yang dapat berakibat kebutaan.

Older posts «

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial